Tentang kami

Aliansi Mekar Pukul Empat adalah perkumpulan pelaku perbukuan anak independen Indonesia. Perkumpulan ini berdiri di Yogyakarta pada 19 Oktober 2022.Pukul Empat (Mirabilis Jalapa) adalah nama bunga. Meski nggak berasal dari Indonesia, bunga pukul empat atau bunga pagi-sore ini sudah akrab sama keseharian orang Indonesia. Bunga pukul empat juga punya banyak warna. Ini sejalan dengan keragaman pustaka anak Indonesia yang diusung aliansi!Menariknya, bunga ini dinamai "pukul empat" karena mereka memang mekar pada pukul empat, lho! Seperti setiap bunga yang punya waktu mekar masing-masing, begitu pula kita. Saat waktunya tiba, seperti bunga pukul empat, kita akan memekar dan mampu menunjukkan warna kita sendiri! Wuhuuu!Lalu, kebetulan, kami semua perempuan dan berjumlah empat saat memulakan aliansi ini. Jadi, nama yang mengandung unsur angka empat dan bunga yang dekat dengan perempuan ini rasanya cocok sekali: Aliansi Mekar Pukul Empat!

program

Pada Pukul Empat

Mengobrolkan topik-topik di sekitar perbukuan anak (Indonesia) secara lebih mendalam itu asyik dan perlu. Aliansi Mekar Pukul Empat mengadakan sarasehan triwulanan untuk memekarkan ide dan perspektif—menemukan keragaman dalam cakupan.


Kelopak Kelima

Program ini mengundang Bung dan Bunga untuk mendiskusikan topik-topik sekitar perbukuan anak yang relevan dengan situasi kekinian dalam format diskusi ringan.


Festival Penerbit Independen Buku Anak

Aliansi Mekar Pukul Empat melihat pentingnya untuk terhubung dan belajar dari praktik-praktik pelaku perbukuan di luar Indonesia. Kami saat ini tengah berdiskusi mengenai pembuatan suatu book fair penerbit independen buku anak. Kami masih mencari-cari dukungan-dukungan potensial dan skema-skema untuk mewujudkan hal tersebut. Mimpi ini tak mudah, namun bukan tak mungkin. Segera di bulan September 2025!


©2024 Aliansi Mekar Pukul Empat

PUBLIKASI

Meramban Baca, Berteman dengan Gulma-gulma

Catatan pemantik "pada pukul Empat" edisi 1

ZULFA ADIPUTRI

...
Untuk menciptakan ekologi perbukuan yang sehat, tiap-tiap pihak yang bermacam-macam itu sama-sama berharga. Pembaca, penulis, penerbit, ilustrator, pustakawan, distributor; yang besar, yang kecil, yang diurus dua orang, yang bergedung lima lantai …. Mereka tak hanya beragam dalam hal jenis atau ukuran saja, melainkan juga dalam paradigma dalam melihat masalah serta menawarkan solusinya. Memelihara ekologi perbukuan berarti memberikan ruang bagi pihak-pihak tersebut untuk bertumbuh dan berbunga, mengulang siklus benihnya lagi dan lagi, tanpa kekhawatiran mati terlantar atau sengaja dicerabut.
...


Teri-Teri,
Janganlah Berenang Sendiri

wawancara ALIANSI MEKAR PUKUL EMPAT
dengan JURNAL PERIODIK "Bibliodiversité review"
15 OKTOBER 2024

Oktober 2024 lalu, Zulfa Adiputri, salah satu inisiator dan anggota Aliansi Mekar Pukul Empat diundang oleh Aliansi Penerbit Independen Internasional (International Alliance of Independent Publishers) yang berbasis di Paris untuk mengisi kolom di jurnal periodik mereka, Bibliodiversité Review. Tema edisi kali ini adalah "Kegentingan dalam Penerbitan Independen".Dalam artikel ini, Zulfa menjawab pertanyaan-pertayaan yang diajukan oleh redaksi Bibliodiversité Review tentang apa dan mengapa Aliansi Mekar Pukul Empat lahir, bagaimana penerbit-penerbit Independen Indonesia yang ia analogikan sebagai ikan teri bertahan di ekosistem perbukuan Indonesia yang dikuasai oleh ikan-ikan besar nan perkasa, dan bagaimana teri-teri ini dihadapkan dengan kebijakan negara yang rasanya tidak juga berpihak pada mereka.Wawancara dengan redaksi Bibliodiversite Review terjadi dalam bahasa Inggris, dan artikelnya terbit dalam bahasa Prancis. Namun, Zulfa dengan baik hati telah menerjemahkan hasil wawancaranya ke dalam bahasa Indonesia agar artikel ini dapat kita baca dan sedikitnya dapat memantik sebuah perenungan tentang ekosistem buku anak Indonesia pada umumnya dan penerbitan independen pada khususnya.

Seniman seringkali bukanlah broker terbaik bagi karya-karya mereka. Dan kami tampaknya masih demikian. Kami menolak melihat buku-buku kami sebagai semata produk untuk memenangkan uang pelanggan. Di saat yang sama, kami juga bertanggung jawab untuk membagikan hasil karya penulis dan ilustrator yang bekerja sama dengan kami kepada sebanyak mungkin pembaca. Menemukan keseimbangan keduanya tidak mudah, tetapi sungguh kami akan dengan senang hati mempelajarinya. Andai saja ada seseorang atau sesuatu di mana kami dapat berguru dan belajar ....
(Perjuangan Harian Kami untuk Bertahan)

korespondensi

Tentang kami

Pukul Empat (Mirabilis Jalapa) adalah nama bunga. Meski nggak berasal dari Indonesia, bunga pukul empat atau bunga pagi-sore ini sudah akrab sama keseharian orang Indonesia. Bunga pukul empat juga punya banyak warna. Ini sejalan dengan keragaman pustaka anak Indonesia yang diusung aliansi!Menariknya, bunga ini dinamai "pukul empat" karena mereka memang mekar pada pukul empat, lho! Seperti setiap bunga yang punya waktu mekar masing-masing, begitu pula kita. Saat waktunya tiba, seperti bunga pukul empat, kita akan memekar dan mampu menunjukkan warna kita sendiri! Wuhuuu!Lalu, kebetulan, kami semua perempuan dan berjumlah empat saat memulakan aliansi ini. Jadi, nama yang mengandung unsur angka empat dan bunga yang dekat dengan perempuan ini rasanya cocok sekali: Aliansi Mekar Pukul Empat!


semboyan

in libris, libertas.

"In libris, libertas" jadi semboyan Aliansi Mekar Pukul Empat. Diambil dari bahasa Latin, "in libris, libertas" berarti "dalam buku, kebebasan ada."Kami meyakini bahwa buku anak punya kekuatan untuk membebaskan pembacanya, baik pembaca kecil maupun pembaca dewasa seperti Bung dan Bunga. Buku dapat membebaskan diri dari ketidaktahuan, dari kesombongan, dari penindasan.


misi

• Menjalin hubungan sinergis antarpelaku perbukuan anak Indonesia.
• Membuka ruang dialog yang inklusif untuk membicarakan isu-isu perbukuan anak Indonesia.
• Memantik studi-studi yang lebih mendalam dan berarti di bidang perbukuan anak Indonesia.
• Mendorong terbitnya buku anak Indonesia yang lebih beragam, eksperimentatif, dan mampu menunjukkan kedirian sebagai orang Indonesia dengan lebih otentik.
• Mendorong ekosistem perbukuan yang berpihak pada anak sebagai manusia yang utuh.


di balik layar

Yulia Loekito (Lia) kecil sangat suka berjalan di pematang sawah sendirian sambil berkhayal. Kadang-kadang ia mengambil sebilah bambu lalu nyemplung ke dalam parit irigasi sawah yang airnya kecoklatan untuk mendayung perahu khayalannya. Di parit yang sama, kerbau-kerbau dimandikan oleh pemiliknya memakai sabut kelapa. Di sore-sore yang cerah, ia akan berdiri di depan hamparan sawah sambil menyanyi lagu Desaku dan Nyiur Hijau. Selain mendengarkan dongeng-dongeng Sanggar Cerita, ia juga sangat suka nonton cerita Cinderella versi musikal Indonesia. Saking senangnya, seringkali ia merekam suaranya—pakai kaset dan tape recoder—menyanyikan lagu-lagu tema film Cinderella itu sambil tersedu-sedu. Bersama teman-teman masa kecilnya, ia pergi keliling kampung memetik jambu dan memanjat tembok miring yang pada akhirnya bikin repot teman-temannya, karena ia tak bisa turun.Ia tumbuh bersama buku-buku yang tak terlalu banyak tapi membuatnya gembira. Saat SD, ia suka membaca Kumpulan Dongeng Hans Christian Andersen, Seri Tini, buku-buku Enid Blyton terutama Malory Towers, Asterix dan Agen Polisi 212, komik-komik pendekar Jawa, dan cerita wayang dari Mahabarata sampai Pandawa Seda, juga Ramayana sampai Wayang Purwa.Ia merasa lebih akrab dipanggil Mbak atau Kakak dibanding Cicik, semata-mata karena tak terbiasa. Ia mulai suka belajar sejak berhenti sekolah dan menemukan bahwa langkah besar itu adalah kumpulan dari langkah-langkah kecil yang tak terputus. Hari ini, anak-anak dan buku-buku adalah bentuk langkah-langkah kecilnya yang diayunkan dengan gembira walau sesekali menggerutu jika hari terasa terlalu panas. Selain menulis cerita anak dan esai-esai ringan, ia mengelola Penerbit Lingkarantarnusa yang menerbitkan buku-buku cerita anak berbahasa dan beraksara daerah serta Komunitas Belajar dan Rumah Baca Green Meadow sebagai ikhtiarnya.

Setyaningsih, tinggal di rumah dalam gang buntu di pinggiran Boyolali. Ia suka berjalan kaki dan minum es teh manis. Sebelum bertemu banyak cerita dalam buku, ia sangat suka mendengarkan cerita-cerita masa kecil ibuk; kerbau, baju Lebaran, telur ayam, jalan desa, pasar Simo, sekolah tanpa uang saku.Beberapa waktu ini, Setya sedang menikmati (lagi) momentum bepergian. Juga menikmati hal-hal kecil, seperti tidur, melamun, memandang sesuatu di kejauhan, dan mengobrol. Meski terkesan tidak produktif, peristiwa kecil itu justru membantunya menemukan lagi keasyikan dalam menulis esai.Sejak 2018, Setya mengoleksi pustaka anak dan menghimpun laporan pembacaannya dalam dua jilid buku esai Kitab Cerita yang terbit pada 2019 dan 2021 (semoga segera terwujud jilid ketiga). Salah satu buku anak yang disukainya berjudul Cerita Si Penidur garapan Aman Dt Madjoindo. Ia berharap bisa melakukan perjalanan ke tanah kelahiran penulis suatu saat nanti, bersamaan dengan angan menyusun almanak penulis bacaan anak Indonesia dalam waktu yang tidak ditentukan.

Zulfa Adiputri menyukai cerita-cerita anak bahkan setelah beranjak dewasa. Ia tumbuh di desa kecil di kaki Gunung Merapi di Yogyakarta di mana ia menghabiskan waktu dengan mencari kepik emas, berenang di bendungan, dan mengerat janur untuk dijadikan sapu lidi bersama neneknya sembari menunggu sang ibu pulang bekerja. Teman cerita Zulfa masa itu adalah majalah anak-anak mingguan langganannya dan buku-buku inpres di sekolah, selain juga cerita kancil dan buaya dan pipit yang gatal terkena bulu bambu yang diceritakan setiap malam oleh ayahnya saat pulang merantau sebulan sekali. Di saat pulang dari rantau itu ayahnya juga bercerita tentang kisah-kisah kecil yang didapat dari lima belas jam perjalanan kereta Yogya-Jakarta; tentang telur asin, sisir baru, stiker barbie, pencopet, dan hamparan sawah dan lembah yang dilihat sepanjang jalan. Bersama ayahnya pulalah ia kadang mengunjungi pamannya, seorang makelar kerajinan tangan, barang antik, dan lukisan, yang memperkenalkan komik Cina, Eropa, dan Jepang kepadanya.Pada 2013 hingga 2019 Zulfa hijrah ke Kyoto, Jepang, untuk mendalami bidang ekonomi politik. Pengalaman lima tahun itu mendorongnya untuk melakukan perenungan atas identitas, inferioritas, kolonialisme dan penetrasi budaya, sekaligus kekuatan cerita. Bahwa sebagai konstruksi (dan konstruktor) sosial, cerita dapat membangun sekaligus membunuh, dapat merangkul sekaligus mengasingkan. Hal-hal itulah yang membuat Zulfa menetapkan hati untuk menjadi seorang pencerita. Sungguhpun, ia sempat mengira bahwa dorongan itu begitu mulia dan tak punya alasan untuk dipertanyakan. Namun kemudian, ia bertemu orang-orang dengan berbagai macam latar belakang, berbagai macam sudut pandang, yang membuatnya pelan-pelan melepaskan kejumawaannya sebagai “orang dewasa” dan “si melek aksara”, terutama, di hadapan calon pembaca terpentingnya: anak-anak.Pada 2023 Zulfa mendirikan penerbit buku anak Penerbit Hujan & Bumi heihumi.id bersama rekan hidupnya Matto Haq. Cita-cita mereka kini sederhana saja; membuat buku-buku yang memelihara dan membangunkan kacamata takjub anak-anak dan dewasa.Saat ini Zulfa tinggal di Yogyakarta bersama suami, dua orang anak, adik perempuan, dan lalat-lalat prajurit hitam yang hidup dengan sehat di dalam empat ember kompos.

Nai Rinaket adalah penulis dan ilustrator otodidak berasal dari keluarga petani di sebuah desa bernama Watubonang. Nai yang tidak mewarisi cara hidup dengan bertani menemukan hubungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depannya lewat menggambar. Saat ini, Nai bekerja dari desa Makamhaji di Jawa Tengah. Karya-karya Nai dapat diintip di situs web nairinaket.com.


PADA PUKUL EMPAT TAHUN I

Edisi 1, tahun 1, 2024

ini standar,
itu standar

Apakah batas-batas yang dibuat negara demi kebajikan buku anak justru kurang bijak dan mengungkung daya cipta para pelaku perbukuan anak?Pemantik:
Zulfa Adiputri

Edisi 2, tahun 1, 2024

Aduh,
disensor!

Apakah suatu kata atau ilustrasi bisa jahat sekaligus berbahaya karena negara bersama orang dewasa mengarahkan seperti itu?Pemantik:
Setyaningsih

Edisi 3, tahun 1, 2024

Buku Anak Indonesia Sebagai Warga Dunia

Jika bacaan anak Indonesia adalah bagian dari dunia yang lebih luas, seperti apa sih sosoknya?Pemantik:
Nai Rinaket

Edisi 4, tahun 1, 2024

Sambung-Menyambung Menjadi Baru

Bagaimana sih para pelaku perbukuan bisa saling berkelindan dan ruang eksperimentasi buku anak diciptakan?Pemantik:
Yulia Loekito

Meramban Baca, Berteman dengan Gulma-gulma

ZULFA ADIPUTRI

Saya punya adik perempuan. Di samping bersibuk-sibuk dengan pekerjaannya sebagai juru gambar, ia suka bertanam. Dari dia saya mendengar istilah seperti permakultur dan pertanian alami, juga nama-nama seperti Iskandar Waworuntu dan Masanobu Fukuoka.Menanam-nanam bersama adik saya yang satu ini kadang asik-asik-repot. Anehnya, dibanding diceramahi untuk harus begini, harus begitu, dia lebih banyak menyarankan, “Jangan dicabut, memang seharusnya seperti itu!” Apa yang ia maksud di sini adalah soal tanaman-tanaman yang kebanyakan orang sebut sebagai gulma.Saat bicara soal gulma, sebagian besar mengasosiasikannya dengan “yang tak diharapkan”. Tanaman yang tak berguna dan sepatutnya dicabut karena mengganggu. Namun, ilmu “aneh” adik saya itu melihat gulma dengan cara yang sungguh berbeda. Siapa yang melabeli mereka sebagai gulma? Sebelum disebut demikian, tanaman ini adalah tanaman saja.Pikiran saya kemudian melompat ke hal lain. Vandhana Shiva, seorang aktivis asal India, menyebutkan kemiripan antara persoalan pangan dan persoalan perbukuan yang dihadapi dunia modern saat ini. Keduanya sama-sama dijepit kapitalisme dalam pasar oligopolistik; sama-sama berdampak besar terhadap kelestarian alam; sama-sama terjerumus dalam homogenisasi. Katanya, sih, begitu.Homogenisasi atau penyeragaman dibuat karena keperluan efisiensi. Perawatan jadi mudah. Semprot satu macam obat untuk 10.000 hektar, manjur. Homogenisasi juga terbukti meningkatkan produktivitas. Dengan satu formula baku, memproduksi pangan jadi jauh lebih cepat. Sat-set, dan jadilah. Homogenisasi tak jadi masalah saat persoalan pangan dipahami sebagai masalah kebutuhan fisik saja, yang diukur dengan indikator kuantitatif berupa jumlah kalori.Namun, ada yang terlupa dalam perspektif semacam ini: di mana ada manusia, selalu ada kelindan sosial-budaya. Jika memercayai hal ini, menyelesaikan masalah pangan adalah urusan memelihara keberagaman, tak hanya keberagaman hayati namun juga keberagaman sosial. Lagi, menurut pandangan Vandhana Shiva, urusan perbukuan pun demikian.Saya adalah anak bau kencur di bidang perbukuan, khususnya buku anak, di Indonesia. Berada dalam dunia yang kompleks—jika tak mau dikatakan carut-marut—ini sungguh mendebarkan. Dalam upaya meraba-raba kompleksitas tersebut, saya jadi rajin browsing-browsing dan menemukan sebuah organisasi aliansi penerbit independen.Organisasi ini menggunakan istilah yang sama sekali asing bagi saya: ekologi perbukuan. Lama baru saya mengerti maksud penggunaan istilah ini. Organisasi ini melihat tiap-tiap komponen dalam perbukuan sebagai “yang hidup”–the livings. Argumen mereka, tak cukup buku diciptakan hanya berbasis efisiensi, sebab buku adalah wadah menyampaikan dan bertukar cara pandang. Makin sedikit macam, makin sempit penglihatan dan wawasan. Buku adalah “energi” dan “nutrisi” yang diputar dalam sistem kehidupan yang berkesinambungan.Untuk menciptakan ekologi perbukuan yang sehat, tiap-tiap pihak yang bermacam-macam itu sama-sama berharga. Pembaca, penulis, penerbit, ilustrator, pustakawan, distributor; yang besar, yang kecil, yang diurus dua orang, yang bergedung lima lantai …. Mereka tak hanya beragam dalam hal jenis atau ukuran saja, melainkan juga dalam paradigma dalam melihat masalah serta menawarkan solusinya. Memelihara ekologi perbukuan berarti memberikan ruang bagi pihak-pihak tersebut untuk bertumbuh dan berbunga, mengulang siklus benihnya lagi dan lagi, tanpa kekhawatiran mati terlantar atau sengaja dicerabut.Menyadari hal tersebut, saya tentu tak bisa menghindar untuk bertanya bagaimana situasi keberagaman perbukuan atau bibliodiversity di Indonesia saat ini. Jujur saja, saya tak tahu. Untuk menjawabnya dengan pasti, diperlukan riset. Untuk melakukan riset, diperlukan dana. Yak, mentok sampai di situ.Tetapi, ada beberapa kejadian belakangan ini yang bikin saya deg-deg-ser dan berpikir, apakah ini gejala awal perbukuan (anak) di Indonesia cenderung terhomogenisasi? Dalam jenis manakah aku dianggap, yang potensial atau yang terbiar sial? Tuh kan, jadi deg-deg-ser.Ah, ah, meski demikian, saya rasa, saya masih punya harapan meskipun “apes-apesnya” tergolong gulma (jangan salah, saya seneng dianggap sintrong atau kubis-kubisan). Sebab, ada saja orang-orang yang percaya dan berkata, “Jangan dicabut, memang seharusnya seperti itu!” seperti para penganut Fukuoka macam adik saya itu. Mereka yang meramban buku dari yang liar dan tak masuk standar (efisiensi dan produktivitas). Pada mereka saya ingin mengucapkan “halo” dan “terima kasih” karena membiarkan kami yang liar ini menebar benih lagi hari ini. Saya harap kamu yang membaca ini pun (akan) jadi salah satunya.[]

Teri-Teri,
Janganlah Berenang Sendiri

wawancara ALIANSI MEKAR PUKUL EMPAT
dengan JURNAL PERIODIK "Bibliodiversité review"
15 OKTOBER 2024

Oktober 2024 lalu, Zulfa Adiputri, salah satu inisiator dan anggota Aliansi Mekar Pukul Empat diundang oleh Aliansi Penerbit Independen Internasional (International Alliance of Independent Publishers) yang berbasis di Paris untuk mengisi kolom di jurnal periodik mereka, Bibliodiversité Review. Tema edisi kali ini adalah "Kegentingan dalam Penerbitan Independen".Dalam artikel ini, Zulfa menjawab pertanyaan-pertayaan yang diajukan oleh redaksi Bibliodiversité Review tentang apa dan mengapa Aliansi Mekar Pukul Empat lahir, bagaimana penerbit-penerbit Independen Indonesia yang ia analogikan sebagai ikan teri bertahan di ekosistem perbukuan Indonesia yang dikuasai oleh ikan-ikan besar nan perkasa, dan bagaimana teri-teri ini dihadapkan dengan kebijakan negara yang rasanya tidak juga berpihak pada mereka.Wawancara dengan redaksi Bibliodiversite Review terjadi dalam bahasa Inggris, dan artikelnya terbit dalam bahasa Prancis. Namun, Zulfa dengan baik hati telah menerjemahkan hasil wawancaranya ke dalam bahasa Indonesia agar artikel ini dapat kita nikmati. Berikut artikel tersebut selengkapnya:

Tentang Kolektif Kami
Aliansi Mekar Pukul Empat adalah sebuah kolektif pelaku perbukuan anak Indonesia, yang terdiri dari empat perempuan, yakni Zulfa Adiputri (pendiri Penerbit Hujan & Bumi), Yulia Loekito (pendiri Penerbit Lingkarantarnusa), Nai Rinaket (pendiri Toko Buku Kalangan), dan Setyaningsih (esais independen).
Kolektif kami dimulai dari obrolan-obrolan informal secara virtual di kala pandemi terjadi di mana kami membicarakan pandangan-pandangan kami mengenai keadaan perbukuan anak Indonesia saat ini. Setelah pandemi berlalu, kami akhirnya mendapatkan kesempatan untuk bertemu langsung. Setelah melalui beberapa pertemuan lainnya akhirnya kami bersepakat untuk bersama-sama mendirikan sebuah kolektif bernama “Aliansi Mekar Pukul Empat” yang bertujuan untuk membawa obrolan-obrolan kami ke dalam suatu aksi yang lebih konkrit. Mekar Pukul Empat adalah nama lokal dari mirabilis jalapa, sejenis bunga yang mekar pada kisaran pukul empat, pagi dan sore. Bisa dikatakan bunga tersebut adalah bunga liar karena ia mampu tumbuh dengan baik bahkan di tanah tak subur sekalipun. Benar, ia amatlah resilien. Bunga tersebut juga hadir dalam berbagai warna dan corak yang mana mewakili mimpi dan harapan kami untuk bermekarnya kesusastraan anak di Indonesia dalam wujudnya yang beragam.Ketika kami mendirikan kolektif ini, kami menyadari benar “ukuran” kami, baik dalam hal kapital, jumlah pekerja, dan kapasitas produksi jika dibandingkan dengan penerbit mayor di Indonesia. Kami juga masihlah muda. Penerbit Hujan & Bumi baru berusia 1,5 tahun (saat tulisan ini dibuat). Penerbit anggota lainnya pun usianya baru 6-7 tahun. Bisnis kami dijalankan sebagian besar oleh pekerja keluarga yang terdiri dari 3-7 orang saja. Dan, kami menerbitkan judul baru tak lebih dari 10 setiap tahunnya. Dengan demikian, dengan setengah bercanda kami kadang memanggil diri kami sebagai teri di jagat samudera perbukuan anak. Walau begitu, meski kami berharap sang samudera akan ramah pada seluruh penghuninya tanpa pandang ukuran, itu bukan berarti kami memandang “paus” dan “hiu” sebagai musuh. Melainkan, analogi ini hanya mengekspresikan bahwa teri ada dan berarti, dan bahwa ia tak sepatutnya berenang sendiri.Hingga saat ini kolektif kami belum terdaftar secara resmi sebagai sebuah badan hukum -di antaranya disebabkan oleh terbatasnya sumber daya keuangan kami. Namun, saya bisa dengan punggung tegak berkata bahwa kami tahu apa yang kami inginkan, dan meski dengan langkah kecil, berupaya untuk mewujudkannya. Setelah kami menuliskan kerangka statuta untuk landasan kolektif kami, kami pun menyusun program kerja. Program kerja pertama adalah sebuah program tiga-bulanan bernama “Pada Pukul Empat”. Dalam program ini anggota kami mendapatkan tugas untuk menyiapkan dan menyajikan pantikan diskusi mengenai suatu topik. Program ini terbuka untuk umum –dalam jumlah terbatas menyesuaikan dengan kapasitas ruang tuan rumah acara yang adalah ruang baca dan toko buku dari Penerbit Lingkarantarnusa.Dua pertemuan pertama Pada Pukul Empat telah dilaksanakan pada Januari dan April 2024 di mana kami mendiskusikan, masing-masing, “standardisasi” dan “penyensoran” pada buku anak. Pada pertemuan berikutnya kami akan membahas “buku anak Indonesia sebagai warna dunia”, dan “keterhubungan dan kolaborasi antarpekerja buku anak”.Di samping program tersebut, program kami lainnya adalah “Kelopak Kelima”. Pada program ini kami mengundang rekan di luar kolektif kami untuk membahas suatu topik yang sedang hangat atau juga mendesak. Pada pelaksanaan perdananya kami mendiskusikan perihal fiksi ilmiah pada proyek buku anak pemerintah.

Perjuangan Harian Kami untuk Bertahan
Sebelum menjadi penerbit dan toko buku, seluruh anggota kami adalah juga penulis dan ilustrator. Kami mencintai buku dan berharap dapat menawarkan buku-buku berkesan kepada anak-anak. Salah satu mimpi kami adalah, dan masih, untuk dapat hidup dari buku. Kenyataannya mungkin saja tak sesederhana itu.
Seperti telah disebutkan, anggota penerbit dan anggota toko buku kami masing-masing merupakan tim-tim kecil. Karenanya, setiap pekerjanya bertanggung-jawab atas beberapa tugas sekaligus –yang pada usaha yang sudah lebih mapan dikerjakan dalam tim-tim tersendiri. Meski hal tersebut tidak mudah, itu masih dapat dilakukan. Tantangan sesungguhnya adalah kenyataan bahwa kami belum dapat menghidupi diri kami dengan bersandar sepenuhnya dari penerbitan dan toko buku kami. Karenanya, selain mengurus penerbitan dan toko buku, anggota kami juga melakukan 2-3 pekerjaan lainnya.Distribusi buku juga merupakan tantangan bagi kami. Beberapa tahun terakhir, saluran distribusi buku perlahan bergeser dari distributor dan toko buku besar kepada reseller dan toko buku independen. Sebagian besar reseller buku anak adalah para ibu yang memiliki perhatian terhadap literasi anak, sekaligus memandang adanya potensi ekonomi dari hal tersebut. Mengetahui besarnya biaya untuk menjadi bagian dari rantai pasok di toko buku mapan dan menaruh buku di rak depan, pergeseran ini menjadi harapan bagi kami. Namun demikian, rupanya tak semudah itu pula untuk dapat tersambung dengan reseller. Kami perlu menyisihkan waktu (tambahan lainnya) untuk mengumpulkan data, seringkali dengan cara manual, dan mengontak satu per satu. Proses tersebut sangatlah memakan waktu dan tenaga, dan dengan tim kecil tantangan ini sungguh nyata. Selain itu, saluran distribusi ini bukannya eksklusif untuk penerbit independen saja. Nyatanya, penerbit besar juga menggunakan rantai distribusi yang sama. Kemudian, berbeda dengan penerbit besar yang pada umumnya telah terhubung dengan pemerintah dan satuan pendidikan, penerbit independen seringkali tak memilikinya dikarenakan keterbatasan sumber daya ekonomi dan politik.Hal lain yang dihadapi penerbit independen adalah pelebaran jangkauan di luar niche. Untuk dapat menggapai pembaca lebih banyak, kami membutuhkan anggaran khusus untuk pemasaran dan promosi. Book fair memberikan ruang untuk hal ini. Sayangnya book fair lokal yang berspesialisasi pada buku anak masih sangat terbatas, apalagi yang menjadi ruang khusus bagi penerbit independen. Buku-buku dari penerbit independen, entah dengan sengaja atau tidak, seringkali juga tersisihkan dari program-program pengadaan pemerintah. Untuk book fair internasional sendiri, terdapat suatu literary agent dari Indonesia bernama Literasia yang berbaik hati mewakili buku-buku penerbit independen pada acara-acara internasional. Meski demikian, tentu saja kami terus berharap suatu saat dapat menghadiri perhelatan internasional tersebut secara langsung. Bagaimanapun juga interaksi tatap muka memberikan perbedaan signifikan dalam berjejaring.Sebagai pemain muda dalam ranah ini kami menyadari bahwa kami memerlukan berbagai perbaikan dalam keterampilan bisnis, khususnya dalam pemasaran juga periklanan. Bagi sebagian besar rumah tangga Indonesia, buku masihlah merupakan suatu barang tersier –bahkan bagi rumah tangga berpendapatan menengah dan menengah ke atas sekalipun. Bukan dalam hal harga, melainkan willingness to pay. Buku anak, terutama buku-buku yang dibuat untuk kegembiraan membaca, sementara tumbuh sangat cepat pada lima tahun belakangan, masihlah berada pada pasar yang sangat niche. Sebab itulah, kami rasa, diperlukan upaya lebih besar untuk menyebarkan visi membaca menyenangkan. Sesungguhnya, perlu disebutkan pula bahwa penerbit independen menghadapi tantangan yang mungkin saja sangat berbeda satu sama lain. Permintaan terhadap buku anak religi dan buku anak yang “mendidik” sangatlah tinggi. Dengan memadukan konten buku dan strategi marketing tertentu, penjualan 10.000 eksemplar bukan mustahil dicapai dalam hitungan minggu –melalui reseller online saja. Namun, bagi anggota kami (Zulfa, Yulia, Nai, dan Setya) bukan buku semacam itu yang ingin kami tawarkan kepada anak-anak. Bukan, kami bukannya menganggap buku-buku yang disebutkan tadi sebagai buku yang “buruk”. Namun, kami berharap dapat membagi buku yang kami sukai. Buku-buku yang bersimpati kepada kami saat dulu menjadi kanak. Buku yang memihak anak-anak. Di saat yang sama, kami memahami bahwa kami harus menemukan cara untuk bertahan. Kami tak ingin berkompromi, tetapi kami percaya bahwa kami perlu memahami apa yang diharapkan para dewasa dan apa yang diinginkan anak-anak, untuk kemudian meramu buku yang mempertemukan keduanya, dan sekaligus sesuai dengan nilai-nilai kami.Seniman seringkali bukanlah broker terbaik bagi karya-karya mereka. Dan kami tampaknya masih demikian. Kami menolak melihat buku-buku kami sebagai semata produk untuk memenangkan uang pelanggan. Di saat yang sama, kami juga bertanggung jawab untuk membagikan hasil karya penulis dan ilustrator yang bekerja sama dengan kami kepada sebanyak mungkin pembaca. Menemukan keseimbangan keduanya tidak mudah, tetapi sungguh kami akan dengan senang hati mempelajarinya. Andai saja ada seseorang atau sesuatu di mana kami dapat berguru dan belajar ....

Pemerintah dan Sektor Perbukuan
Ketika kami menyadari bagaimana pemerintah kami memandang sektor perbukuan, kami menaruh harapan akan sokongan pemerintah dengan serendah-rendahnya. Setidaknya ada tiga kementerian di Indonesia yang berhubungan dengan sektor perbukuan, yakni Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Koperasi dan UMKM, dan Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Namun, tak ada di antara ketiganya yang menjadikan sektor perbukuan sebagai prioritas. Sementara sektor penerbitan disebutkan sebagai sektor prioritas dalam Permen No. 11/2022, peraturan tersebut lebih menekankan kepada produksi animasi dibanding pada “buku” itu sendiri. Kebijakan tersebut dimaksudkan untuk mendorong produk-produk turunan dan alih wahana dari buku, sementara dukungan untuk penerbitan buku dan kepenulisan buku sendiri diabaikan.
Kemenkop-UMKM menawarkan sejumlah program peningkatan kapasitas, namun program-program tersebut generik saja. Program dengan kekhususan hanya tersedia untuk sektor fashion, kuliner, kriya, dan pariwisata, namun tidak dengan sektor penerbitan. Dalam hal pembiayaan, Kemenkop-UMKM menawarkan pinjaman lunak yang dapat diakses oleh bisnis sektor manapun. Sayangnya, program dana hibah mereka tak terjangkau bagi sebagian besar penerbit independen. Dana hibah tersebut mensyaratkan omset bulanan minimal Rp 300.000.000,00 –lebih dari 10 kali pendapatan bulanan kami.Kemendikbudristek, sementara itu, memandang buku sebagai perihal vital. Namun, pandangan mereka terhadap persoalan perbukuan sangatlah terfragmentasi. Tak dapat dipungkiri bahwa buku adalah medium penting bagi pendidikan. Kemendikbudristek sendiri menghubungkan isu buku dengan isu literasi. Sebagai catatan pinggir, Indonesia mencetak skor rendah dalam Programme for International Student Assessment (PISA) dan pemerintah kami sangat khawatir terhadap skor tersebut. Pemerintah kemudian menghubungkan isu literasi, terutama literasi anak, dengan isu aksesibilitas. Solusi yang mereka junjung kemudian adalah dengan menyediakan buku dengan slogan 3M: mutu-murah-merata. Ketika “murah” menjadi tujuan, pastilah ada hal-hal dan pihak-pihak yang harus dikorbankan. Itu adalah keanekaragaman dalam perbukuan, kedaulatannya, dan keadilannya.Untuk dapat menggapai target buku aksesibel dalam pengertian di atas, Kemendikbudristek mengambil alih peran pembuatan dan penerbitan buku. Kemendikburistek melalui dua lembaga yang ia miliki, yakni Badan Bahasa dan Pusat Perbukuan, memproduksi buku cerita anak melalui program sayembara skala besar. Zulfa, Yulia, Nai, maupun Setya sendiri berpartisipasi dalam sayembara tersebut beberapa kali. Kekurangan terbesar dari penyediaan buku dengan skema sayembara adalah bahwa, dibanding melakukan deliberative writing, penulis akan memilih untuk mengirimkan manuskrip dengan kemungkinan menang tertinggi. Dengan kata lain, mereka menulis dengan mencocokkan diri dengan selera sayembara dan institusi penyelenggaranya.Dengan sumber daya yang begitu besar Kemendikbudristek mampu mencetak buku-buku hasil sayembara tersebut dalam jumlah besar untuk dibagikan ke berbagai wilayah di Indonesia. Sungguhpun, kami tidak menentang buku gratis untuk anak-anak! Namun, dalam kasus ini, dibanding bekerja untuk menyediakan kebijakan yang mendorong keberagaman yang “sesungguhnya” dalam perbukuan Indonesia –dan tak sekedar tokenisme—juga merancang dan mengaplikasikan kebijakan yang memastikan keadilan dari hulu hingga hilir perbukuan –dari pekerja perbukuan hingga ke pembacanya—pemerintah memilih untuk menjadi “sang penerbit” dan memproduksi buku yang cocok dalam standar kepatutan mereka saja. Tidakkah ini pada akhirnya hanya akan berujung pada homogenisasi buku anak dan crowding-out dalam penciptaan buku anak?Pusat Perbukuan, sementara itu, memiliki fungsi tata kelola dalam penyediaan buku secara keseluruhan. Lembaga ini dimandatkan untuk menjaga ekosistem perbukuan. Salah satu hal yang ingin saya jadikan contoh di sini adalah bagaimana Pusat Perbukuan menjalankan tugasnya dalam penyediaan buku untuk satuan pendidikan. Beberapa tahun yang lalu Kementerian Pendidikan meluncurkan suatu platform bernama “SIPLAH”. Dapat dikatakan SIPLAH adalah lokapasar daring yang mempertemukan penyedia barang dan jasa dengan konsumen yang adalah satuan pendidikan (SD, SMP, hingga perguruan tinggi). Melalui platform tersebut satuan pendidikan dapat membelanjakan dana bantuan pemerintah untuk kebutuhan mereka. Buku termasuk di antaranya.Pusat Perbukuan gencar melakukan sosialisasi kepada penerbit, mengajak penerbit untuk menaruh produk ke dalam SIPLAH. Namun sebelum itu, terdapat sejumlah tahap yang harus dilalui. Pertama, penerbit harus mengirimkan buku untuk mendapatkan “penilaian” dari Pusat Perbukuan. Termasuk yang dinilai adalah “ketepatan” dan “kepatutan” buku berdasarkan standar-standar yang dibuat oleh pemerintah. Jika suatu buku berhasil melewati proses ini, akan dilakukan suatu proses untuk menentukan harga ecer tertinggi (HET). Langkah ini barangkali dilakukan untuk menghindari mark up dan korupsi. Namun, kebijakan HET ini menjadi sandungan bagi banyak penerbit, termasuk penerbit independen. Pemerintah menyatakan bahwa HET ditentukan dengan menghitung sejumlah komponen, yakni (1) biaya cetak (asumsi oplah 1.000 eksemplar), (2) biaya proses dan manajemen penerbitan, (3) biaya distribusi, dan (4) insentif mutu buku (Peraturan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan No. 26/H/P/2023). Pada kenyataannya HET menelurkan protes dari penerbit –bahkan penerbit besar dan terkemuka sekalipun- atas hasil perhitungan HET yang tak masuk akal. Sulit mempercayai bahwa perhitungan HET yang dilakukan sesuai dengan komponen-komponen yang telah diatur ketika para penerbit menemukan HET yang ditetapkan atas buku mereka amatlah mencekik. Dibandingkan asumsi cetak 1.000 eksemplar, sejumlah penerbit menduga bahwa pemerintah menghitung harga cetak dengan asumsi 10.000 eksemplar. Hal ini tentu di luar jangkauan kebanyakan penerbit independen –setidak-tidaknya penerbit anggota kami- yang mencetak buku dengan oplah 500-1500 dalam sekali siklus. Sebagai gambaran, sebuah buku anak, 32 halaman, sampul lunak yang dijual dengan harga Rp 65.000,00 di pasaran divonis HET sebesar Rp 15.000,00 – 25.000,00 di SIPLAH. Dengan harga tersebut jangankan keuntungan, kami bahkan tidak dapat membayar royalti untuk penulis dan ilustrator. Ditambah lagi, pemerintah pun tidak menjamin penyerapan buku yang telah ditaruh di SIPLAH disebabkan keputusan pembelian ada pada satuan pendidikan. Ironisnya, pihak yang seringkali mengambil keputusan kurasi judul buku bukanlah guru ataupun pustakawan, melainkan kepala sekolah atau bahkan kepala dinas yang mana penerbit-penerbit tertentu telah memiliki perjanjian informal dengan mereka. Pada akhirnya yang mendapat kerugian terbesar dari sistem semacam ini adalah siswa-siswa di sekolah.Secara ringkas dapat dikatakan bahwa pemerintah telah gagal melihat proses penciptaan buku anak sebagai suatu proses budaya yang imperatif terhadap bangun suatu bangsa. Pemerintah melihat buku tak lebih sebagai alat lain untuk mencetak anak sebagaimana mereka inginkan.

Kembang-kembang Teri
Penerbit anggota kami menggunakan skema prapesan untuk menyokong biaya cetak. Periode prapesan yang biasanya berlangsung selama 2 minggu tersebut adalah suatu sesi roller-coaster bagi kami. Berdebar-debar penuh harap, tetapi juga takut setengah mati. Jika suatu judul tak terpesan dengan baik selama prapesan, bagaimana kami akan menanggung biaya cetak nantinya? Menurunkan oplah cetak akan menaikkan harga buku secara signifikan. Menargetkan skala ekonomi berarti potensi bagi tambahan utang dan biaya gudang. Rasanya sulit. Rasanya menyeramkan. Mungkin ini karena kami memang teri. Dan, mungkin karena itulah, lagi-lagi, teri tak seharusnya berenang sendiri.
Tantangan yang kami hadapi membuat kami menyadari pentingnya suatu komunitas belajar bagi penerbit independen. Kami memerlukan suatu ruang di mana kami dapat bertukar informasi, saling belajar satu sama lain, dan bekerja bersama sebagai suatu pergerakan. Di dalamnya tak haruslah melulu berisi penerbit saja. Justru, mata rantai lain yang berbeda-beda itu perlulah bersatu. Aliansi Mekar Pukul Empat juga melihat pentingnya untuk terhubung dan belajar dari praktik-praktik pelaku perbukuan di luar Indonesia. Kami saat ini tengah berdiskusi mengenai pembuatan suatu book fair penerbit independen buku anak. Kami masih mencari-cari dukungan-dukungan potensial dan skema-skema untuk mewujudkan hal tersebut. Mimpi ini tak mudah, namun bukan tak mungkin.
(***)
Catatan:
Sejumlah data yang tersebut dibuat sesuai periode saat buku ini ditulis, yakni sekitar akhir 2023 hinggal awal 2024.